free page hit counter

Saling Hormat Meski Beda Rakaat, Tarawih Penuh Hikmat

Salah satu ibadah istimewa dan hanya dilakukan khusus di bulan Ramadhan adalah shalat sunnah tarawih. Dahulunya Rasulullah saw mencemaskan ibadah ini, takut menjadi ibadah wajib bagi umatnya.

Shalat tarawih ini menjadi ibadah paling digemari di bulan Ramadhan. Masyarakat muslim muslimat beramai-ramai mendatangi  masjid atau mushala untuk menjalankan ibadah shalat tarawih berjamaah. Meski dalam tuntunannya Rasulullah tidak menjalankan shalat tarawih secara berjamaah.

Rasulullah saw bersabda:

خَشِيْتُ أَنْ تَفَرَّضَ عَلَيْكُمْ فَلَا تُطِيْقُونَهَا

Artinya: Aku takut kalau-kalau tarawih diwajibkan atas kalian, kalian tidak akan mampu melaksanakannya (Hamîsy Muhibah, Juz II, hlm 466-467).

Setelah Rasulullah saw, tidak ke masjid di malam ketiga, maka yang melaksanakan shalat tarawih ini adalah Sayyidina Umar bin Khattab ra. Disampaikan dalam riwayat Shahih Bukhari, dari Abdirohman bin Abdil Qori beliau berkata :

“Saya keluar bersama Sayyidina Umar bin Khattab ke masjid pada bulan Ramadhan (didapati dalam masjid tersebut) orang yang shalat tarawih berbeda-beda. Ada yang shalat sendiri-sendiri dan ada juga yang shalat berjamaah. Lalu Sayyidina Umar berkata: Saya punya pendapat andai kata mereka aku kumpulkan dalam jamaah satu imam, niscaya itu lebih bagus. 


Lalu beliau mengumpulkan kepada mereka dengan seorang imam, yakni sahabat Ubay bin Ka’ab. Kemudian malam berikutnya, kami datang lagi ke masjid. Orang-orang sudah melaksanakan shalat tarawih dengan berjamaah di belakang satu imam. Umar berkata: Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini (shalat tarawih dengan berjamaah) (HR Bukhari).

Dalam shalat tarawih ini terdapat rakaat shalat yang berbeda-beda ketika kaum Muslim menjalankannya. Ada yang menjalankan 8 rakaat, ada pula yang 20 rakaat shalat.

Dalil Shalat Tarawih 8 Rakaat
Dalil shalat tarawih dikerjakan dengan delapan rakaaat adalah hadits Nabi Muhammad saw, diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dari Aisyah ra, sebagai berikut.

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ وَهِىَ الَّتِى يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ (رواه مسلم)

Artinya: Dari Aisyah, istri Nabi saw, ia berkata: Pernah Rasulullah melakukan shalat pada waktu antara setelah selesai Isya yang dikenal orang dengan ‘Atamah hingga Subuh sebanyak sebelas rakaat di mana beliau salam pada tiap-tiap dua rakaat, dan beliau shalat witir satu rakaat (HR Muslim).

Dalam Dasar Shalat Tarawih Empat Rakaat Satu Kali Salam, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, terdapat pula riwayat lain dari Abī Salamah Ibn ‘Abd ar-Raḥmān, bahwa ia bertanya kepada Aisyah mengenai shalat Rasulullah di bulan Ramadhan. Aisyah menjawab: Nabi tidak pernah melakukan shalat sunnah di bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. 

Beliau shalat empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau shalat lagi empat rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga rakaat (HR al-Bukhārī dan Muslim).

Dalil Shalat Tarawih 20 Rakaat
Sementara dikutip dari Buku Saku Sukses Ibadah Ramadhan (2017: 28), beberapa tabi’in meriwayatkan pengerjaan shalat tarawih dengan jumlah 20 rakaat pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. 

Pertama, Said bin Yazid menyampaikan: Umar bin Khattab mengumpulkan umat Islam di bulan Ramadhan dengan Imam Ubay bin Ka’b dan Tamim al-Dari, dengan 21 rakaat [dalam riwayat lain 23 rakaat]. Mereka membaca ayat-ayat ratusan. Baru selesai ketika menjelang Subuh (Riwayat al-Baihaqi dalam al-Sunan 2/496, Abdurrazzaq dalam alMushannaf 4/260). 

Selain itu, Yazid bin Rauman menyebutkan: Umat Islam di masa Umar beribadah di malam bulan Ramadhan dengan 23 rakaat (al-Muwatha’ Malik, 1/115).

Sedangkan Yahya bin Said al-Qathan menyatakan: Umar memerintahkan seseorang menjadi imam shalat Tarawih dengan umat Islam sebanyak 20 rakaat (Riwayat Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf, 2/163). 

Imam al-Tirmidzi sendiri pernah berkata: Mayoritas ulama mengikuti riwayat Umar, Ali dan sahabat Rasulullah yang lainnya sebanyak 20 rakaat. Ini adalah pendapat al-Tsauri, Abdullah bin Mubarak dan al-Syafii. Al-Syafii berkata: Seperti ini yang saya jumpai di Negeri kami Makkah. Umat Islam shalat 20 rakaat (Sunan al-Tirmidzi 3/169).

Demikian beberapa hadits yang menjelaskan tentang  jumlah bilangan rakaat shalat tarawih. Saat kita memilih jumlah 20 rakaat shalat tarawih, adapun pilihan saudara muslim yang lain memilih 8 rakaat harus kita hormati, karena tarawih adalah sunnah sedangkan ukhuwah hukumnya wajib.

Hery Miftahul Hadi, S.Pd Koordinadtor Duta Damai BNPT RI Regional Lampung
Tulisan ini juga dimuat di lampung.nu.or.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.